Campus Stories #1: Textbook, Haruskah dibeli semua?

Tahun ajaran baru sebentar lagi dimulai. Saya ucapkan selamat datang kepada adik-adik calon mahasiswa baru yang sebentar lagi akan meramaikan gedung perkuliahan. Berhubung masih dalam suasana euforia back to campus, saya terinspirasi untuk berbagi mengenai kehidupan perkuliahan saya jaman dahulu kala. Rencananya saya akan membuat beberapa postingan seri #CampusStories yang berisi tips and trick dalam menghadapi kerasnya dunia perkuliahan. Wahai para mahasiswa baru, tentunya kehidupan perkuliahan berbeda dengan kehidupan di SMA. Salah satu contohnya, tidak disediakan buku paket dari sekolah sebagai referensi belajar. Di awal perkuliahan, ada minggu perkenalan dimana dosen menyampaikan silabus mata kuliah serta referensi yang digunakan. Tidak seperti zaman SMA dimana satu mata pelajaran menggunakan hanya satu referensi, satu mata kuliah memiliki paling tidak 2 atau lebih referensi ajar. Haruskah dibeli semua? FYI, harga textbook yang asli itu mahal ya, terutama jika menggunakan referensi berbahasa asing, paling tidak harganya mencapai sekitar 200 ribu rupiah atau lebih. Let’s say terdapat 5 mata kuliah di semester awal ini. Asumsikan setiap mata kuliah membutuhkan 2 buku referensi, jadi perhitungan kasarnya yaitu

5 matkul x 2 textbook x Rp 200.000,- = Rp 2.000.000,-

Yup, 2 juta rupiah bukan jumlah yang sedikit untuk membeli buku teks (yang pada akhirnya hanya akan memenuhi kamar kosan dan mengumpulkan debu karena jarang dibuka. Yes, that’s true story anyway).

Bagi saya uang sebanyak itu lebih baik untuk beli makan (dan novel, skincare, make up, serta baju). Jadi harus bagaimana, kakak? Ada beberapa tips yang bisa saya bagikan terkait pengumpulan textbook ini,

1.       Di awal perkuliahan akan ada banyak pihak yang menjadi penjual buku dadakan, mulai dari unit mahasiswa, himpunan ataupun senior. Jangan langsung panik dan membeli semua textbook yang ditawarkan. Kuncinya, hadirilah perkuliahan selama 2 minggu. Di awal perkuliahan, dosen biasanya akan memberikan silabus mata kuliah serta referensi yang digunakan. Tanyakan kepada beliau, referensi apa yang paling penting (apakah perlu untuk dimiliki, atau dimana referensi tersebut bisa diakses).

2.       Setelah mengidentifikasi referensi mana saja yang utama dan perlu dimiliki, saatnya kita manfaatkan hubungan pertemanan dan relasi. Jika memiliki  kenalan kakak kelas di jurusan yang sama, tanyakan apakah kita dapat meminjam buku yang kita butuhkan dari senior tsb. Syukur kalau ternyata malah mendapat sepaket buku hibah. Tidak punya kenalan senior? Ya ini saatnya untuk berkenalan. Lumayan kan sekaligus memperluas relasi di kampus.

3.       Sudah tanya-tanya ke senior ternyata kehabisan. Tenang, masih ada buku dari perpustakaan yang bisa dipinjam. Setiap kampus pasti memilki fasilitas perpustakaan kan. Disana pasti tersedia berbagai textbook yang dibutuhkan dalam kegiatan belajar mengajar. Sayangnya, waktu pinjam terbatas (biasanya sekitar 2 minggu) sehingga kita harus memperbaharui pinjaman buku secara berkala. Selain itu, jumlah buku terbatas sehingga harus bergantian dengan mahasiswa lainnya.

4.       Nah tips berikut ini adalah tips favorit saya. Saya lebih menyukai referensi dalam bentuk softfile daripada bentuk cetak, karena mudah diakses dan ringan (bermodal koneksi internet, laptop atau tablet pc, dan tidak perlu membawa gembolan buku berat) dan yang paling penting free of charge.  Banyak situs berbagi yang menyediakan textbook secara cuma-cuma. Kalau mau yang legal, bisa cek website nya Project Gutenberg  atau kunjungi  Openstax yang merupakan kerjasama dari Rice University, dengan Bill & Melinda Gates Foundation serta yayasan lainnya. Setelah menemukan referensi yang dibutuhkan tinggal di download ke piranti kamu deh. Bisa diakses di laptop, tablet PC, bahkan smartphone. Saya sih lebih suka menggunakan tablet 8 inch, lumayan meringankan beban bawaan ke kampus namun tetap nyaman dibaca.

5.       Tips terakhir untuk kamu yang tetap kekeuh untuk memiliki versi cetak. Bisa dengan mencetak softfile (di print dengan ukuran lebih kecil, misal 2 halaman dijadikan 1 halaman) ataupun dengan memfotokopi buku punya teman. Yah memang masih butuh modal lebih, namun paling tidak budgetnya tidak sampai 2 juta rupiah lah. Kalau mau mengeluarkan sedikit usaha, kamu juga bisa memotret bagian yang kamu perlu dari buku temanmu (ya tidak perlu satu buku, cukup bagian pentingnya saja, semisal bagian latihan atau suatu ringkasan skema).